Rabu, 01 Juni 2016

FLEKSI TIME YANG TAK LAGI FLEKSI


Tulisan ini semata-mata ditulis untuk mengungkapkan kegelisahan hati yang mewarnai sebagian besar kaum hawa.

Mulai bulan depan, tidak boleh datang telat. Maksimal toleransi datang terlambat hanya 5x dalam sebulan.

Lalu, mulailah aku ditunjuk-tunjuk sebagai orang yang sering datang telat. Dan dalam sebuah acara kantor, dipertunjukkan. di-per-tun-juk-kan siapa saja yang datang telat. Dan tentu saja, aku adalah juara umum dalam seksi kerjaanku.
Tetapi, dibandingkan dengan seksi lain, aku belumlah pantas menyabet juara umum. Ya kayaknya juara harapan 1 atau harapan dua. Masih ada pegawai lain yang rekor telatnya melebihi aku.

Lalu, apa masalahmu, kenapa misuh-misuh begitu???
Mungkin itu yang ingin kalian tanyakan.

Oke aku akan menjawabnya.

Permirsah, kalian mau tanya mau kepo jam berapa aku bangun?
Aku jawab ya. Aku setel alarm setiap hari jam 03.30. Begitu alarm bunyi, aku matikan dan setting ulang jam 04.00. Paham?
Ya. aku bangun 04.00. Jam yang secara umum orang-orang sudah pada bangun kan?
Apa yang aku lakukan setelahnya?
Tentu saja ke kamar mandi, pipis. Eh,...bukan itu yang kalian maksud kan pemirsah?
Setelah bangun, cuci muka, segera nyalain lampu dan membuka pintu penghubung ke dapur. Mencuci beras, lalu mencolokkan magic com. Lalu, nyicil untuk meratakan tumpukan gunungan pakaian. Menyetrika baju anak, bajuku dan suami. Jam 5 pagi, ketika suamiku pulang shalat subuh di masjid, aku shalat subuh di rumah. Selepas shalat, sambil melipat mukena, aku bangunkan anak wedhok. Segera menuju dapur, merebus air untuk isian termos, membuat kopi/teh buat suami, memasak dan menggoreng lauk, kadang ditambah menggoreng pisang atau membuat puding.

Jam 06.00, mulutku mulai bersenandung lagu yang lembut. Semakin lama bisa menjadi nyanyian rocker jika anak wedhokku yang mandinya kelamaan tak juga membuka pintu kamar mandi. Selanjutnya suaraku akan semakin menggema di seantero udara rumah. Ayo kakak, cepetan pakai baju. Ambil nasi dan lauk, makan. Ayo Faris, bangun. Gantian mandi sama Fakhri. Lalu, si kecil segera kebangun entah karena ulah usil masnya atau mendengar suara rocker. Nasi matang. Sayur matang. Lauk matang. Cemilan. Segera di kemas ke wadah masing masing, segera masuk ke tas yang akan di bawa ke daycare., ditambah susu dan buah tentunya. Suamiku selepas memandikan dua bocah, segera memakaikan baju, dan menyiapkan baju ganti mereka di daycare nanti.
Pukul 06.30 biasanya selesai berkemas. Mengecek ada surat atau pemberitahuan apa di tasnya Faris, setelah itu aku mandi bebek. Asal basah dan bersih, mana sempat pake lulur pagi-pagi. Selesai mandi, sambil mencari baju dan aksesoris, kembali kulantunkan senandung. Faris, pakai kaos kaki dan sepatunya. Fakhri pakai sepatunya. Kita siap-siap berangkat.
Berdandan sekedarnya, menyambar tas, menuang minum ke gelas (suka lupa minum dari pagi), menggendong Fakhri, tas di punggung, tentengan di tangan kiri, segera keluar rumah. Suami dan Faris sudah menunggu. si Kakak sudah dari tadi berangkat ke sekolah.

06.45 kami melaju ke daycare, lanjut ke sekolah TK mas Faris, ngobrol bentar sama ibu guru, atau sekedar say hello, nitip Faris, lanjut ke stasiun. Oleh karena tidak bisa masuk ke stasiun UI, aku turun di pojokan parkir deket lapangan dan parkiran. Turun dari motor, lari-lari besar ke stasiun sambil pasang telinga, dengerin pengumuman kereta sampai dimana. Jika yang mau masuk kereta ke arah kota, biasanya lariku menjadi kecil. Iya, kalau kereta ke kota kan panjang, jadi kepotong peron, tidak bisa menyeberang. Jika diumumkan yang mau masuk kereta ke tanah abang, segerea kupacu lariku.
Terengah setelah menyebrang dua sisi jalan, lanjut tap in kartu dan menyeberang ke peron arah Jakarta.
Begitu kereta datang, merangsek masuk, pasang muka tembok, yang penting mundur terus masuk ke kereta. Seingnya kereta berjalan terkantuk-kantuk, pelan, ketahan-tahan. Misalnya ada sisa waktu 10 menit dari pasar minggu, sebenarnya masih keburu untuk absensi 07.30. tetapi apa daya, begitu sampai stasiun kalibata, ada kereta bogor hendak lewat, 12 gerbong pulak! Alamak ketahan, dan tap out kartu pun makin antre berbarengan penumpang yang turun dari kereta ke arah bogor. Sudah berlari, menyeberangi motor dan ojeg, begitu mau absensi, mesin dengan sinis teriak. Hei, sudah 07.31. Telat lagi loe! Kezell kan?

Terngiang-ngiang penggalan obrolan beberapa waktu lalu. "Tidak boleh telat lagi ya. Itulah mengapa penerimaan kita tidak tercapai, karena pegawainya suka datang telat".  (Hah???? apa hubungannya)
"Saya kan mengurus rumah dulu. Tidak bisa lah bangun trus langsung cuss. Gimana makan, suami dan anak-anak?" (pahala di rumah dapat, gaji juga dapat)
"Saya aja yang jauh bisa kok datang pagi"
(ya iya, datangnya cuma hari senin, selebihnya ngekost)

Sebenarnya, kenapa kebijakan fleksi time yang jelas diatur dalam Perarturan Menteri Keuangan (PMK-214/PMK.01/2011 tanggal 14 Desember 2011), masih diotak-atik atas nama kebijakan masing-masing kantor?
Tentunya Bapak Menteri mengeluarkan peraturan tersebut dengan pertimbangan yang sangat banyak, setelah mendapat bisikan dari banyak pihak dan praktek langsung tentunya. Lalu Lintas di Jakarta selalu macet. Bus, Transjakarta(jalurnya aja masih diserobot kendaraan lain), Kopaja, metromini, motor, kendaraan pribadi, membludak setiap hari memenuhi jalan-jalan di setiap sudut ibu kota. Kereta listrik pun penumpangnya bertumpuk-tumpuk. Bukti nyata baha mayoritas pekerja di Jakarta tinggalnya di luar Jakarta. Sudah teruji pasti saat lebaran, Jakarta menjadi lengang. Nah, karena pertimbangan arus lalu lintas di Jakarta yang tidak manusiawi dan tidak bisa diprediksi inilah Pak Menteri mengeluarkan peraturan fleksi time, bahasa gampangnya mengganti keterlambatan dengan menambah jam kerja. Jumlah waktu penggantian pun juga dibatasi yaitu hanya sejumlah 30 menit saja. Tentu saja kebijakan ini disambut dengan hangat dan penuh sorak sorai, terutama oleh para PNS yang tunjangannya dipotong bila ada keterlambatan. Imbasnya, waktu pemotongan pun menjadi bergeser mundur 30 menit. Yang semula setor jari 07.31 sudah kena potong 0.5%, karena bisa ganti jam keterlambatan, potongan mulai berlaku di 08.01. Sebuah keputusan besar yang banyak menolong ribuan orang. Bayangkan, orang yang sudah berniat berangkat pagi, tiba-tiba ada kecelakaan di jalan, dan sampai kantor 07.31, dan tidak boleh mengganti waktu, itu sudah kena potong 0,5%. Bayangkan gimana paniknya orang-orang yang terjebak di jalanan, memikirkan bagaimana sampai kantor dan tidak kena potongan, bisa-bisa karena lebih fokus ke masalah potongan, malah jadi melupakan keselamatan. Ada juga kisah nyata yang terjadi saat belum berlakunya fleksi time ini. Teman saya, mengalami jatoh motor di Jalan Raya Pasar Minggu. Sudah tertimpa motor, badan sakit, dan baju sobek, dia masih nekat memacu motor ke Gatot Subroto, setor jari, baru dia berobat. Setelah adanya kebijakan ini, kan jika ada yang mengalami musibah di jalan, bisa sedikit mengurangi kepanikan dengan berobat dulu sekedarnya, baru absensi. Betapa tertolongnya para ibu karier dengan kebijakan ini. Bisa tenang memasak, tanpa harus buru-buru masak dengan api besar, sreng-sreng angkat, jebule  ikan/ayam kulitnya gosong tapi dalamnya belum matang. Para Ibu pun bisa pamitan ke anak-anaknya dengan rileks, bukan adegan sambil pakai sepatu, bunda berangkat ya, salim sini, tutup pagar, Assalamu'alaikum. Bukan sebuah dialog yang penuh penghayatan, tapi hanya karena memenuhi kewajiban (pamit).

Kini, ketika kebijakan ini digugat, diotak-atik oleh segelintir orang dengan alasan peneriman tidak tercapai, apa korelasinya?
Penerimaan tidak tercapai ya karena targetnya yang teramat besar, sementara para Wajib Pajak sudah dipajaki bermacam-macam, dan banyak yang belum jujur melapor dan menyetor jumlah pajaknya.
Trus kalau datang pagi, apa dijamin si pegawai langsung duduk manis di kursi dan bekerja seharian?
Trus, apa orang yang datang telat, dia gak bisa kerja, atau pekerjaannya telat, atau pelayanannya tidak maksimal? 95% orang yang datang telat masih berprestasi bagus, dan tetap bekerja maksimal.

Sudahlah...gak usah ngedumel panjang lebar dan sok ngeles ya. Intinya kamuh datangnya telat kan? Iya kamuh. Makanya bangun pagi dan berangkat pagi.

Hei...situ yuk menginap di rumahku, biar tahu jam berapa aku bangun. Lebih pagi dari tukang ketoprak tetanggaku. Sudah bangun sebelum masjid membangunkan orang-orang. Kan juga sudah diceritain apa aja kegiatanku dari baru melek ucek-ucek sampai berangkat.

Iya sih, tapi tidak boleh begitu, tetap tidak boleh datang telat.

Helloww....semua orang punya prioritas. Dan prioritasku setiap pagi sebelum ngantor adalah menjadi pelayan buat keluargaku. Menyiapkan ini itu, mengantar anak-anak dengan tenang, baru jalan ke pekerjaan.

Apah? situ pelayan? kayak pembantu aja. Makanya cari pembantu donkkk

Sudahlah, bahasan ini tak ada habis-habisnya untuk dibahas.

Dududududu....sampai kapan aku begini?

Selasa, 31 Mei 2016

ME TIME

Image result for gambar naik angkutan umum kopajagambar dari google


Tiba-tiba saja pengin ngebolang. Jalan kemana saja tanpa tujuan jelas. Teman yang semula sudah siap untuk menemani, tiba-tiba saja membatalkan janjinya. Ya, sudah kepalang, meskipun sendirian tetaplah harus ngebolang.

Termangu menunggu bus yang akan mengantarkanku di teriaknya siang. Sudut jalan ini, jelas kulihat sibuknya jalanan.Kendaraan yang lalu lalang, kebut-kebutan dan pengin dulu-duluan. Klakson menjerit tak henti-henti. Semua pengin yang paling dulu, tak mau mengantre. Bahasa kasar dan umpatan keluar dari mulut-mulut yang tak sabar.

Bus pun datang. Hatiku pun senang. kupilih duduk di sebelah ibu-ibu dengan alasan keamanan. Ternyata tempat duduk tak cukup menyangga pantatku. Kakiku menahan beban yang cukup berat. Ketika ada penumpang turun, aku segera berpindah. Malang, tempat duduknya tak lebih baik dari yang pertama. Persis aku duduk di belakang pak sopir yang asyik menghisap rokoknya. Bus yang panas dan kurang oksigen ini menjadi semakin panas. Di Sebelah pak sopir, duduk mamah muda, anak laki-laki enam tahunan dan sebelahnya lagi bapaknya. Si Bapak merokok tanpa merasa bersalah. Jadilah anak lelaki itu berada diantara dua perokok. Ah...uhuk...uhuk. Aku pun terbatuk. Pengin kuumpat, tapi mulut tak terucap. Hanya bisa merutuk dalam hati. Panas, macet, dan rokok. Makin menambah gerah bus tua ini.

Macet. Bus hanya bisa merangkak pelan. Seorang kernet kecil. Ya. Masih anak kecil, yang berada diluar bus, kernet dari bus di belakangku,  mengobrol dengan pak sopir dengan bahasa selayaknya orang dewasa. Entahlah mereka sedang membahas apa, yang jelas seputar sepinya penumpang dan panasnya jalanan. Ah, anak sekecil itu sudah bekerja, menjadi kernet. Kamu tidak sekolah nak? Tak ada yang peduli. Yang kami butuhkan adalah makan dan gimana caranya bertahan di ganasnya kehidupan ibu kota. Ijazah tak menjamin kelayakan hidup kami. Noh, ada juga sopir bus yang lulusan sarjana, tapi hidupnya tetap saja di jalanan. Tak ada peluang dan kesempatan untuk dapat pekerjaan dengan penghasilan layak.

Bus melaju selepas rambu hijau menyala. Ah, seperti biasa, langsung ngebut di tikungan. Susah payah kucari pegangan agar badanku tak oleng ke kiri dan ke kanan. Saking semangatnya memacu gas, tempat tujuan turunku pun terlewat. Sebal. Kesal. tapi, tak bisa berbuat apa-apa.

Kulangkahkan kaki di gedung yang dingin ini. Aroma roti, bakso, dan panggang-panggangan serasa menggelitik perutku. kufokuskan diri untuk mencari keperluanku. Tak gampang belanja dengan dipacu waktu yang membuatku harus buru-buru memilah dan memilih. Menawar, dengan harga yang sewajarnya tanpa membuat tekir dompetku. Dapat satu barang, masih harus diteliti kecacatannya apakah parah apa masih tolerable. Tiga jam memutar-mutas dan beberapa kali kesasar pada eskalator yang bermacam-macam. Mulai tidak fokus. Alarm tubuh sudah ditabuh. Mata masih saja mencari barang diskonan, dan kaki masih ingin terus melangkah mengitari kios-kios. Tapi semua harus kuhentikan.

Aku pulang dengan bawaan di kiri kanan. Tertatih menyeberang jalan menunggu bus pujaan. Dalam bus pulang, kunikmati seuntai lagu indah persembahan pengamen jalanan. Lagu indah tentang harapan, optimis menghadapi kehidupan. Bahwasanya, hidup harus terus berjalan, seperti roda-roda bus ini yang dengan setia menembus jalanan, mengikuti perintah sang sopir. Aku pun harus mengikuti kemana takdir akan membawaku. Setiap orang punya pilihan untuk memilih jalan hidupnya, setiap orang punya akal untuk berpikir apakah pilihan yang diambil sudah benar atau akan menyakiti orang-orang sekitarnya.


Rabu, 25 Mei 2016

LELAKI SESEDERHANA SUAMIKU

LELAKI SESEDERHANA SUAMIKU


Jika para abg berharap dapat pacar romantis, yang bisa nraktir gratis, memberi sekuntum bunga dan kue manis.
Bagiku, suami romantis adalah suami yang tanpa jijik menyeka ingus, atu mengganti celana yang kena pipis.

Suami gagah bukan suami yang berpakaian rapi, wangi, kemejanya licin bekas setrikaan.
Suami gagah adalah suami yang rela pake kolor, ngebut motoran demi mengantarkan istri ke pekerjaan.

Betapa romantisnya suamiku, tak pernah memberi bunga atau coklat, tapi dia tahu apa yang aku butuhkan dan inginkan, walau baru sebatas angan, tiba-tiba saja dia sudah belikan.

Suami yang baik itu, tak canggung untuk pergi ke pasar tradisional, membeli segala sesuatu yang ada di catatan, tak tanggung menawar dan berebut belanjaan hehehe.

Suami sigap itu, sigap menggendong anak yang menyodorkan kain gendongan, sigap membuat susu saat anak menyebut dot...dot..susu.

Suami romantis itu adalah suami yang rela berbagi pekerjaan dengan istrinya. Memahami kerewelan istrinya yang ngomel sepanjang pagi dan malam, suami yang tak menyalahkan istri saat istri sedang mengomeli anak. Tetapi, suami yang diam-diam saat anak tak tahu, menasehati istri dengan cara yang santun bukan menggurui.

Suami yang romantis adalah suami yang bertahan pada satu istri meski cerewet dan suka ngomel, meskipun diluar sana banyak yang cantik dan tak suka ngomel.

Suami yang romantis itu adalah suami yang konsisten dengan pilihan hidup dan jodohnya, tanpa mengeluh dan berusaha menukar jodohnya. Menerima kekurangan pasangan tanpa syarat, dan tak menuntut pasangan menerimanya secara mutlak.

Jumat, 27 Februari 2015

Jika Aku Menjadi (Seorang Bos/Atasan)

Seseorang bekerja, tentunya ingin kariernya berkembang. Dari saat menduduki pekerjaan pertama sebagai seorang staf, secara reguler naik pangkat tiap empat tahun. Bolelhlah berangan-angan, kalau lancar naik pangkat tiap tahun trus bisa lulus ujian naik pangkat (lintas golongan) tahun 2026 siapa tahu saya sudah jadi seorang atasan alias Kepala Seksi.

Meniti karier dari bawah mengalami banyak pergantian atasan dengan beraneka watak dan pembawaaan yang tentunya sangat mempengaruhi terhadap kenyamanan situasi di pekerjaan. Dari atasan yang sangat dingin, tidak kenal dengan anak buahnya, kesan angker dan galak berganti atasan yang low profile, yang murah senyum tapi ternyata tidak bisa membackup bawahan. Kalau ada suatu masalah tidak pernah mengambil alih tanggungjawab, selalu bawahan yang disalahkan. Lalu berganti dengan atasan yang ketat banget dan angker plus judes. Semua pekerjaan harus dikerjakan dengan sempurna. Tidak boleh berisik. Ruangan sunyi senyap. Ibaratnya ada jarum jatuh pun terdengar dan tembok tembok mendadak punya telinga. Jika ada yang ngrasani (menggosipkan) atasan tersebut pun tahu. Suasana kerja tidak kondusif, bawahan bekerja dibawah tekanan. Mencekam. Bahkan kalau lagi tidak ada kerjaan, kami buka internet pun takut takut, dan mejaku paling dekat beliau ini, jadilah saya yang sering kena sasaran.

"Kirain sibuk kerja nunduk-nunduk, ternyata lagi sms an" huft...sms saja tidak boleh
Pagi baru datang, masih ngos-ngosan belum duduk belum juga naroh tas sudah dipanggil mbahas kerjaan. Duh,...menyebalkan. tapi bos yang ini, seneng banget wisata kuliner. Sering nyoba restoran atau tempat makan, dan kami anak buahnya selalu ditraktir.

Habis bos perfect terbitlah bos ala...alakadarnya. Bos ini beneran tak pernah kerja ngetik-ngetik dikompinya. Duduk aja dikursinya atau tertidur. Kerjaan yang mikirin yang ngerjakan dan menyelesaikan ya anak buah. Tidak menguasai masalah, tidak mau belajar tentang peraturan-peraturan atau dasar hukum suatu permasalahan. Akhirnya, pihak-pihak yang berkepentingan lebih senang bertanya langsung ke anak buahnya #potong birokrasi. Bos ini juga kurang bertanggungjawab kepada anak buahnya. Jika ada panggilan untuk datang ke undangan kantor pusat, tak pernah berbasa basi tanya, kau kesana bareng siapa? naik apa?  Selalu berangkat dan pulang masing-masing. Ditempat acara pun tidak berdekatan duduknya. Padahal bos bos lain datang dan duduk bareng anak buahnya.Namun ada juga sisi positif dari bos ini. Beliau tidak suka reseh ke anak buahnya. Jika anak buah ada kepentingan diluar dinas, misalnya ijin pulang karena anak sakit, ijin tidak masuk karena sakit atau ada kepentingan keluarga yang lain, bos ini selalu mengijinkan dan tidak pernah memerintahkan untuk segera balik kantor atau bertanya-tanya kok sering ijin melulu anak sakit melulu atau apalah.

Jadi, seandainya nanti aku menjadi bos, aku akan :
1. Mencoba berempati kepada anak buah,
berikan mereka suasana yang kondusif untuk bekerja, meskipun anak buah rajin tapi suasanan kerja tidak menyenangkan, tentunya akan berpengaruh terhadap produktivitas anak buah
2. Memahami masalah, tidak lari dari masalah
Jika menjadi bos yang menangani para pegawai, ya saya harus belajar aturan kepegawaian. Saya tidak mau kalau nanti ditanya-tanya pihak yang berkepentingan, tidak bisa menjawab dan melempar anak buah
3. Membackup anak buah
Bos itu semestinya melindungi anak buah, rela pasang badan selama itu sesuatu yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan
4.  Tidak gila hormat
Ada loh bos yang penginnya selalu dihormati, didahulukan kepentingannya, didengar pendapatnya dan jika ada prestasi anak buah, dia yang paling depan membusungkan dada
5. Memisahkan antara urusan dinas dan urusan pribadi
Kadang tanpa disengaja ada anak buah yang berbuat kesalahan atau mungkin secara pembawaan anak buah tersebut kurang sopan atau ngomongnya asal ceplas ceplos, jadi si bos ini merasa kesinggung. Lalu dalam hubungan personal ada loh bos yang benci ke anak buah tersebut, meskipun si anak buah prestasinya bagus. Tidak pernah diberi instruksi tentang mengerjakan pekerjaan, bertanya sampai mana suatu pekerjaan dilakukan. Istilahnya anah buah tersebut bekerja karena kesadaran sendiri
6. Sekali-kali ajaklah anak buah makan dengan uang pribadi bos bukan kas seksi
Menurut saya ini penting loh, karena bos pun perlu mengembangkan pola komunikasi yang baik dengan anak buahnya. Bos perlu tahu dan mengamati hubungan dengan anak buahnya. Apakah selama ini kepemimpinannya direspon dengan baik, apakah ada kendala dalam masalah pekerjaan dsb
7. Bersikap adil terhadap semua anak buah
Harus itu. Anak buah yang kurang pinter menyelesaikan pekerjaan diberikan bimbingan teknis agar bisa berkembang. Yang sudah pinter diberikan apresiasi, jadi bukan malah sebaliknya, membiarkan anak buah yang kurang berkembang dan menambahi pekerjaan pada anak buah yang pinter dan tangkas
8. Berikan Pujian
Jangan merasa gengsi untuk memuji anak buah. Ucapan pujian yang tulus adalah support yang luar biasa bagi anak buah
9. Ucapkan Terimakasih
Berikan ucapan terima kasih sesekali ke anak buah atas kerjasama mereka selama ini menjadi tim yang kompak
10. Jangan segan meminta maaf
Jika atasan salah dalam menafsirkan masalah atau salah dalam mengambil keputusan, jangan segan untuk mengakui dan meminta maaf ke anak buah. Jangan hanya menuntut kesempurnaan dari anak buah, tetapi bos sendiri seenaknya.


Semoga suatu saat nanti jika menjadi bos, saya bisa menjadi bos yang baik, tegas, disukai anak buah.



Senin, 23 Februari 2015

Susahnya punya tetangga suka komentar

"Ih,..kecil banget" celetuknya ketika melihat Fakhri dalam gendonganku. Hasratku untuk sebentar bermain main menghirup udara luar langsung sirna. Tentu saja paras wajahku langsung berubah kecut. Tapi, kaki sudah melangkah diluar rumah, tak enak rasanya kalau aku langsung masuk kembali ke dalam rumah.

Aku turunkan si kecil dari gendonganku. Kaki kecilnya dengan riang melangkah pelan. Ya, dia mulai senang belajar jalan.
"wah, pegawai pajak gajinya mau naik 2,5 kali lipat ya?" ujar pakdhe.
"Amin. semoga segera turun aturannya" jawabku asal-asalan masih termakan komentar pertama tadi.

Uh,..sebel bener. Tidak keluar rumah, nanti dicap sombong tidak mau membaur. Giliran keluar, sebal saja kalau cuma dikomentari. Ya memang, bayiku yang ini tidak segemuk kakak-kakaknya. Pada usianya yang genap sembilan bulan, beratnya 9,5 kilo. Menurut saya juga tidak termasuk kategori kurus, tapi memang tidak gempal. Masalahnya bukan disini, tetapi Fakhri kurus karena menurut mereka-tetangga yang pada sok tau- tak terurus, karena ditaroh di daycare. Hello, ya emangnya di daycare itu para bayi hanya ditaroh begitu saja di stroller, tidak dikasih susu atau makan? Ya memang perawatannya tidak sebagus kalo tinggal di rumah sendiri dan diurusi oleh pembantu atau babby sitter.

Punya pembantu kalau tidak bagus juga apes. Sudah pernah punya pembantu tidak bagus belum? Gimana rasanya kalau Anda sudah bayar mahal, buat ngambil ke kampung aja ongkos sudah berapa, belum harus berkorban pulang cepet yang dipotong penghasilan minimal 2,5%, trus belum ongkos sana-sininya selain tiket kereta, belum pulsa uang jajan. Dan ternyata si pembantu tak beres kerjaannya? Anak tidak terurus, dengan bukti sakit karena tiap siang tidak pernah tidur, dibiarkan nonton tivi acara apasaja karena si pembantu doyan nonton tivi. Panas panasan diajak naik sepeda dengan alasan si anak maksa minta naik sepeda di siang bolong. Anda lelah sepulang kerja trus anda dapati si anak belum mandi sore, belum makan. Dengan badan letih anda "terpaksa" memandikan si anak. Ditambah lagi rumah berantakan, dibilangnya sudah disapu tapi sampah rambut semut dimana-mana? Setrikaan numpuk bergunung-gunung, dan diturunkan dari jemuran asal aja ditaroh sampai baju itu pritat pritut meski sudah diseterika. Capek kan? Trus giliran pembantu dipulangkan, anda-anda dengan enteng menuduh si majikan galak, judes makanya pembantu pada tidak betah.

Begitu si majikan tidak punya pilihan, eh pilihan masih ada semisal ambil pembantu dari yayasan, tapi siapa yang bisa jamin si pembantu kerja bagus padahal ambil dari yayasan sudah sejutaan aja ongkos ngambilnya.
Lalu. dimasukanlah si Bayi Fakhri ke daycare. Daycare ini adalah rumah tinggal, menetap disitu, yang punya juga orang Purwokerto, ya maaf kalau dibilang SARA, tapi saya memang merasa nyaman dan merasa dekat saja karena masih sama sama orang ngapak. fakhri dari 2,5 bulan sudah disitu, lalu menyusul juga si kakaknya, Faris, setelah hampir dua bulan capek tiap hari ikut ayahnya ke proyek ditambah lagi musim hujan. Jadilah, dua kakak beradik disitu, sementara si Sulung Keisha, pergi sekolah bawa kunci rumah, pulang sekolah sendirian beberapa jam di rumah. Untung saja sekolahnya dekat. Nah, masalah sekolah dulu juga sempat dipandang gimana sama tetangga, karena aku masukin Keisha ke sekolah SDIT yang mahal dengan pertimbangan dekat rumah. Ternyata pilihan saya tidak salah kan? Andai saya masukin sekolah ke tempat lain, tidak kebayang rasanya Keisha pulang sekolah sendirian, jauh naik angkot atau ojek atau jemputan. Alhamdulillah saya tidak salah pilih. Sebentar, ini tadi pakai aku akuan terus ganti saya sayaan? Ya biarinlah suka suka saya, orang lain saja pada suka komentar tanpa perhitungkan perasaan saya. hohoho...

Balik lagi ke soal Fakhri. ya, terus terang saya merasa sedih anak saya dibilang kecil, bahkan sampai kulitnya ditowel towel untuk tahu tingkat kekenyalannya. Anaknya si A, yang dua bulanan lebih muda dari si Fakhri memang badannya gede, meski pas lahir beratnya 2,8 jauh lebih berat dari Fakhri yang lahirnya ada 4,280 gram. Padahal asi saya jauh lebih banyak. stoknya aja sampai 2 kulkas (2 freezer pada kulkas 2 pintu). A ini masih beruntung ada mertuanya yang mau mengasuh cucunya. Sedangkan si B, kakak si A, juga masih beruntung punya pembantu yang care banget sama anaknya. Pembantunya masih muda, tapi bisa menjaga 2 batita. Saya juga pernah punya pembantu yang super hebat, dan pembantu itu keluar saat 11 hari usia Fakhri karena si Mba juga lagi hamil. Sejak itulah gonjang ganjing perpembantuan belum berakhir. Saya ada trauma untuk cari pembantu. Takut anak lebih gak ke urus, dan takut capek ati. Sekarang, saya memang sangat-sangat capek. Tidur kurang, kerjaan banyak, bahkan sabtu minggu saya stripping menyelesaikan gosokan, dan sangat lega dan bangga saat gosokan sudah tertata rapi masuk lemari. Setidaknya saya tidak capek ati. Anak-anak jadi mandiri. Orang tua dan anak juga hubungannya lebih dekat, dan jeleknya si kakak sering kena marah juga oleh bundanya hehehhe...ini kalau sudah overload dan si kakak bikin ulah dikiiit aja, langsung dah meledak.

Berusahalah berempati kepada orang lain. Saya sakit hati anak saya dibilang layu, kecil banget, kurang terurus. Masih mending you pada punya pembantu, pas lagi beruntung aja punya pembantu bener, tapi kan tidak selamanya pembantu itu stay disampingmu. Pembantu juga kalo tenaganya dikuras habis, akan berpikir ulang untuk tinggal lebih lama. Kayak saya donk, masih bantuin pembantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Masak masih saya. Mandiin anak masih suami. Tanpa kau tahu, pembantumu curhat ke tetangga mengeluh capek. Siap siap aja lebaran dia tidak balik.

Kalau anda jadi saya belum tentu anda bisa mengerjakan semua pekerjaan hanya berdua suami, tanpa ada bantuan dari orang luar. Saya masih masak untuk keluarga, masih bikin bubur saring, nyetrika sendiri. Seharisnya anda salut donk, saya bisa mengerjakan semuanya, belum tentu anda bisa seperti saya. Makan beli diluar setrika tinggal ke laundry, habislah penghasilan anda dalam sebulan.

Sedih bener dan masih kepikiran sampe sekarang. Sedih anak dikatain kecil. Memanngnya besar kecilnya saya yang bikin? Lihat dong kemampuan motoriknya, normal apa tidak perkembangannya. Meskipun kecil, umur sembilan bulan anak saya sudah mulai rambatan, sudah mulai titah-titah, gigi sudah 6. Nah lho,..kalau yang positif positif begini pasti lue pada kagak liat. Ya iyalah, abisnya ada gajah sih di pelupuk matanya, tapi kalau semut di seberang lautan bisa tampak ya?

Rabu, 28 Januari 2015

KESABARAN

Image result for gambar orang merenung
gambar dari google

Sebatas manakah kesabaran itu
Ketika aku pulang dan rumah berantakan
Aneka mainan berserakan
Lantai tercecer rmah kotoran

Sebatas manakah kesabaran itu
Ketika malam dan tubuh lelah
masih menyalakan kompor meracik menu
membilas baju merapikan piring dan sendok

Sebatas manakah kesabaran
Belum juga membersihkan badan
menyiram air segarkan badan
membasuh debu debu
si kecil menangis minta susu dan dipangku

Sebatas manakah kesabaran
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam
Badan sudah merajuk minta direbahkan
di meja bertumpuk pakaian menunggu di licinkan

Ya Tuhan Alloh
waktuku begitu cepat berlalu
tak bisa kupenuhi malamku dengan mengeja kitabMu
tak lagi kudengarkan lantunan merdu ayatMu

Diri ini sering menyeringai bagai serigala
Berkata kasar dan membelalakkan mata
Membuat anak anak mengerucut dalam takut
Salah siapa?
Mengapa hidup harus begini
tak lagi tawa dan canda
yang tersisa hanya jiwa jiwa letih
jiwa yang lelah tertatih tatih

Jumat, 13 September 2013

KAPAN???

Kapan Engkau merasa paling kesepian, padahal engkau ada di tengah keramaian? Saat orang-orang tak ada mempedulikan kehadiranmu

Kapan engkau merasa tak dianggap oleh lingkungan tempat tinggalmu? Saat engkau selalu peduli pada orang lain, membantu tetangga yang kesusahan, tapi saat kau kesusahan mereka tak ada yang membantumu

Kapan kamu merasa bukan siapa-siapa dan tak dianggap apa-apa? Saat sebagian besar orang tak menghargai hasil kerja kerasmu

Kapan kamu merasa demotivasi dan malas untuk bekerja? Ketika tak ada dukungan dari teman sejawat, atasan merasa paling pinter dan paling tahu, hanya sebatas tahu saja, bukan berdasarkan aturan

Kapan kamu merasa sangat jengkel? Saat sebuah keputusan yang dibuat secara berjenjang, diparaf dan disetujui atasan, diusulkan pada atasan diatasnya lagi. Namun ketika keputusan itu berdampak pada ekonomi dan kemerosotan kerja, kamu jadi orang yang paling disalahin dan diminta pertanggungjawaban. Menyebalkan sekali bukan? Ya. Sangat menyebalkan dan menjengkelkan.