Rabu, 15 Agustus 2018

ALHAMDULILLAH, MASIH REJEKI

Sabtu pagi, adalah hari bersantai-santai setelah lima hari sebelumnya berurusan dengan pekerjaan. Sabtu pagi, cita-cita adalah bangun siang, tapi apalah daya, kewajiban adalah kewajiban tak bisa ditinggalkan. Jadi tetap bangun pagi, menunaikan kewajiban dan tidak bisa bobok lagi (ilang ngantuknya).
Selesai shalat selonjoran di kamar sejenak membuka hape melihat ada kesibukan apa di dunia maya. Baru sebentar ngeklik sana-sini, sudah kedengaran suara Paksu di luar kamar.
"Bun, mau ke pasar tidak?"tanyanya sambil membawa baju kotor sekeranjang ke belakang
"Pasar donk"jawabku sambil mata tetap melihat ke hape.
"Yuk ayuk ah, sebelum makin siang" ajak paksu.

Dengan setengah malas aku beranjak keluar kamar. Mengganti baju dengan baju panjang, kulot, dan jilab slup-slupan. Tak perlu menengok ke dalam kulkas, karena aku sudah hapal apa saja yang habis. Baru buka pagar, si kecil berlari dari dalam kamar merengek minta ikut. Jadilah kami ke pasar bertiga. Sabtu pagi, jalanan sekitar Beji lumayan lengang. Jauh banget bedanya dibandingkan dengan ketika hari kerja. Tak sampai lima belas menit, kami sampai di Pasar Kemiri. You know, di mana itu Pasar Kemiri? Letaknya persis di sebelah stasiun kereta Depok Baru.

Setelah menitipkan motor di parkir langganan, kami melintasi rel menuju pasar. Baru tahu, kalau tempat jualan sudah ditembok permanen. Kami menuju tukang sayur langganan dengan jalan satu-satu, tidak bisa bersisian, karena jalannya hanya muat untuk dua orang dua arah. Areal pasar sebenarnya luas, tetapi karena selama ini mengganggu aktivitas transportasi di sekitar Depok Baru, apalagi para pedagang berjualannya sangat memakan jalanan angkot, akhirnya sering menimbulkan kemacetan. Ditambah lagi, ada agenda pemkot Depok untuk merenovasi terminal bus, sehingga demi kelancaran transportasi, maka ruas jalan yang semula digunakan oleh para pedagang untuk berjualan, sekarang sudah dipagar tembok. Menurut mbak pedagang ayam, para pedagang kini waktu jualannya shift shift an, ada yang jualan pagi, dan sebagian lain gantian jualan di waktu siang, demi sama-sama bisa punya tempat dan rejeki tetap mengalir.

Pagi tampak mulai panas, karena tak ada terpal atau apapun yang biasanya dipakai pedagang buat berteduh. Sinar matahari langsung mengenai kulit. Suasana pasar tampak ramai seperti biasanya, karena memang di pasar ini lah semua barang dijual dengan harga murah. Aku membeli dua ekor ayam, ati ampela, udang dan sayur mayur serta buah untuk kebutuhan seminggu. Belanjanya sudah biasa di langganan, jadi tidak lagi menggunakan tawar menawar. Meskipun ditawar, toh harga paling turun seribu dua ribu, karena rata-rata sudah menjual dengan harga pas, jadi tidak khawatir dimahalkan buat yang jarang belanja disini.
Selesai belanja, Paksu memanggul belanjaan, saya menggendong Fakhri. Duh, bocah yang tampak kurus ini tetap saja membuatku terengah-engah saat menggendongnya. Apalagi pas digendongan badannya sengaja meliuk kesana kemari sambil tak henti menciumi pipi bundanya (so sweet), jadinya makin kepayahan aku menggendongnya.

Sebelum melintasi rel kereta, tak lupa kami menoleh ke kanan ke kiri memastikan keadaan aman. Jalan disisi rel ini memang sangat sempit, jadi harus jalan bergantian jika sama-sama membawa tentengan, karena setengah jalanan dimakan pedagang, ditambah lagi papasan dengan orang yang keluar masuk stasiun atau baru pulang dari pasar yang kebanyakan bawaannya bejibun.
Kugendong Fakhri sampai parkiran. Setelah meletakkan Fakhri posisi berdiri di parkiran, aku menuju tukang kelapa langganan, beli kelapa parut. Paksu sibuk mengemas belanjaan agar memudahkan membawanya. Setelah semua beres dan tak lupa membayar parkir, kami pun keluar parkiran dengan hati-hati. Jangan pikir setelah keluar parkiran langsung ketemu jalanan lancar. Tidak, karena ini masih area pasar. Banyak pengunjung pasar yang menaroh parkir seenaknya, ditinggal belanja di sekitar jalan. Juga becak dengan banyak muatan, dan abangnya yang kecapekan mengayuh becak. Ditambah lagi angkot yang menurunkan penumpang, berderet-deret membuat macet. Sabar saja kalo tiap hari lewat pasar kemiri. Untung saja, aku naik turun kereta tidak di stasiun ini, bisa emosi tiap hari ehehhehe.

Berhasil melewati barisan angkot, kemacetan lain menghadang di depan kami. Yap. Depok diatas jam delapanan pagi, mulai macet bok. Justru macet banget di hari Sabtu Minggu. Lengangnya cuma bentar waktu pagi tadi. Arus kendaraaan yang berasal dari jalan margonda, juga dari arah depok lama tumpah ruah di ujung fly over jalan Arif Rahman Hakim. kadang ikut terpancing juga ketika motor dan kendaraan lain di belakang bersikap tak sabaran, mainan klakson dengan harapan kendaraan di depannya segera memberi jalan. Emang dikira yang denger klakson telinganya gak pada pengeng apa ya. Dengan sangat hati-hati paksu selap selip diantara kendaraan. Ketika kami membelok ke arah jalan kembang, kami bisa sedikit lebih lega sudah masuk di jalanan kampung. Ujug-ujug paksu menghentikan motor di  abang sayur depan mpokalfa, dan menunjuk-nunjuk barang hijau panjang, kode minta dibelikan. Setelah membayar, aku pun memasukkan barang hijau panjang beraroma semerbak ke dalam plastik belanjaan.

Singkat cerita, sampailah kami di rumah. Aku turun dari boncengan dan membuka pagar. Setelah menurunkan Fakhri, aku masuk menaroh belanjaan.

"Bun, plastik(isi) ayam mana?" panggil paksu. Suaranya terdengar panik.
"kan tadi mas yang ngemasin" jawabku
"Iya, tapi ini gak ada. Jatuh apa ya"ujar paksu

Kupastikan keberaaan plastik ayam di belanjaan yang sudah kubawa masuk. Memang tak ada. Tak lama terdengar suara motor paksu menjauh dari rumah. Tinggallah aku di dapur sendiri. Fakhri sudah bergabung dengan kakaknya nonton kartun kesayangan di layar kaca. Fokus mereka tak terganggu ketika ayah bundanya panik kehilangan ayam. Kuambil segelas air putih dan kuteguk cepat. Ada rasa sebal yang tiba-tiba datang. Terbesit tanya, si ayam jatuh dimana? Lumayanlah harga dua ekor ayam, setengah kilo udang dan tiga ati ampela. Sambil menarik napas dan mengumpulkan energi positif, kucoba berpikir jernih. Ya namanya belum rejeki ya begini. Ya sudah seminggu ini makannya tempe tahu telor saja. Males kalau harus mengeluarkan uang lagi untuk belanja ayam. Kalau ayam dkk sudah ditemukan orang dan berniat menggorengnya, semoga itu bermanfaat buat lauk sang penemu. Tapi belajar ikhlas itu susah ya. Tapi tetap berusaha. Wis dah. Lupakan soal ayam. Mau disusuri sepanjang jalan apa iya ketemu? Gimana caranya? Ap malah si ayam sudah remek karena kelindes kendaraan.

Kunyalakan kompor buat menggoreng nugget untuk sarapan anak-anakku. Sambil menggoreng, kumasukkan sayuran-sayuran yang tadi dibeli ke dalam kulkas. Tak berapa lama, terdengar suara motor paksu. Antara harapan tapi takut kecewa, aku mengintip dari pintu dapur. Kudengan Faris bertanya ke ayahnya soal palastik merah yang dibawa. Hmm,...plastik merah???

"Ketemu dimana mas?" tanyaku senang saat kulihat plastik ayam ditenteng paksu
"Wah,.tadi mas udah sampai parkiran lagi. Pelan-pelan nengokin ke bawah kiri kanan. Eh ini tadi ketemu di di jalan Palem"jelas paksu
"Kok bisa ketahuan?"tanyaku penasaran
"Iya, tadi pas lagi noleh-noleh Mas lihat ada plastik merah di ruko jalan Palem. Trus ada koko-koko nanya, nyari apa mas? mas jawab nyari plastik isi ayam. Kayaknya itu ya ko? tanya mas sambil nunjuk plastik merah di ruko si koko. kata koko nya, tadi itu plastik dikira sampah, pas dibuka isinya ayam. Alhamdulillah ya bun, masih rejeki kita" senyum paksu sambil menowel hidung pesekku.
"Iya, alhamdulillah, seminggu ini gak jadi makan cuma dengan tahu tempe aja hehehe"

Terkadang, manusia susah untuk bersikap ikhlas, dan terlalu menakutkan tentang rejekinya. Dia lupa, ada Alloh sang maha pemberi rejeki. Kadang manusia, terlalu egois, ketika miliknya ada yang hilang. Tak jarang ada doa jelek yang terucap pada siapa saja yang menemukan barang miliknya. Padahal barang hilang tersebut karena keteledorannya sendiri, bukan karena dicuri atau diambil. Hikmahnya, ikhlaskan jika barangmu hilang karena keteledoranmu. Seandainya barang milikmu ditemukan orang dan orang itu tidak mau mengembalikan, ya ikhlaskan. Semoga Alloh memberi gantinya yang lebih baik. Namun, ketika kita berusaha untuk mengikhlaskan, ndilalah barang tersebut malah kembali lagi ke kita.

Selasa, 31 Juli 2018

Saya Pernah Bekerja di Pabrik (Bagian Satu)

      Aku pernah merasakannya. Hidup berdampingan dengan gemuruh suara mesin. Manusia-manusia yang mempunyai kesibukan berdasarkan jam kelompoknya. Mess yang selalu ramai saat jam pulang kerja, dan kembali menjadi sunyi saat ditinggalkan penghuninya. Para pedagang makanan matang penyelamat dari kelaparan, serta nikmatnya tidur panjang di hari libur yang panjang.

Tahun 2000
      Lulus sekolah, tapi tak lulus ujian menuju kampus idaman. Membuatku terpuruk dalam keminderan. Malas keluar rumah, karena akan selalu dapat sapaan tetangga. 
-Masih di rumah aja?
-Katanya kuliah, kok belum berangkat?
-Nggak jadi kuliah?
-Gak kuliah di rumah mau apa?
-Emang kemarin ambil jurusan apa kok gak lulus? ketinggian sih standarnya.
dan....banyak sekali pertanyaan sejenis yang dilancarkan para tetangga.
seolah aku adalah artis terkenal. Orang beken, yang segala urusanku perlu diketahui oleh khalayak umum. Hariku terasa berat. Berat badan pun naik pesat. Bayangkan saja kerjaan tiap hari hanya makan minum tidur. Main keluar rumah jarang, abisnya takut ditanya-tanya orang.
      Sesekali aku turun ke sawah membantu orang tuaku menanam padi, mencabuti rumput, dan memanen padi ketika sudah masuk waktu panen. Jangan dibayangkan apa enaknya di sawah. Selain puanas, bikin kulit jadi eksotik, kaki gatal, rambut merah, juga kadang-kadang ada hewan lintah. Tapi, sebagai anak yang baik, kutunjukkan baktiku pada orang tua. Masak cuma makan tidur aja kerjaanku.
      Waktu berlalu terasa lambat. Pengin rasanya segera masuk bulan-bulan daftar kuliah. Kenapa tidak memanfaatkan waktu buat bimbel? Gak punya duit, itu jawabnya. Pengin kerja, kerja kemana? Gimana nyarinya? Ah...terbayang betapa susahnya menjadi aku waktu itu. Anak muda yang baru lepas dari bangku SMU dan baru merasakan gimana rasanya perjuangan hidup setelah lepas seragam putih abu. Duit tak punya. Gebetan tak ada. Hampa dah hampa.
      Empat bulan berlalu terasa setahun. Suatu ketika untuk menghilangkan suntuk aku pergi ke kota, naik sepeda ontel cuyy, demi untuk menghemat ongkos. Jarak desa ke kota sekitar dua belas kilo, dengan beban dua puluh kilo diboncengan. Iya, aku pergi bareng adikku yang masih berumur sembilan tahunan demi agar selama perjalanan aku punya teman ngobrol. Kami ke kota, sekedar untuk beli mie ayam dan es teh manis. Iya sesekali kami pun orang ndesa butuh hiburan. Sekedar makan mie ayam pun itu sudah sebuah hiburan yang mewah. Kau tahu kawan? Hidup di desa dari keluarga yang sederhana dengan penghasilan seadanya, nyari uang itu susah bener. Mau jajan barang seharga seribu dua ribu pun susah. Maka kadang kami anak kecil suka nahan-nahan jajan dari uang yang kami kumpulkan entah pemberian kakek nenek atau saudara, seratus dua ratus rupiah, kami kumpulkan untuk bisa membeli semangkok mie ayam. Bukan ayam goreng kaefsi atau mekdi atau yang serba kekinian, kami tidak kenal semua itu.
      Pulang dari kota, jam dinding tua sudah menunjukkan pukul dua siang. Ada bekas gelas teh di meja ruang tamu. Ibu dan bapakku sudah berangkat kembali ke sawah. Kuhabiskan waktu dengan bermain bersama adikku menunggu kepulangan bapak ibuku. 
"Tadi temanmu Marni kesini waktu kamu ke kota"ucap ibuku sore itu di dapur sambil mengaduk sayur
"Marni ada pesan apa bu?"tanyaku penasaran
"Dia bilang mau ke Purwakarta cari kerja. Mau ngajakin kamu"
 "Ya besok aku coba main ke rumahnya"
              
                    *********
      Dua hari berlalu. Aku lupa pada janjiku untuk main ke rumah Marni. Ketika siang itu ibu pulang dari rumah, ibu membujukku untuk ke rumah Marni. Kukayuh pelan-pelan sepedaku membelah siang hari yang panas dan berangin sepoi. Suasana desa sepi. Kebanyakan warganya sibuk di sawah ladangnya. Sepedaku menembus pohon-pohon jagung dan aneka tanaman lain. Sesekali suara ternak mengembik bersahutan. Rumah marni tak jauh lagi, diujung perladangan ini. Kusandarkan sepeda pada pohon mlinjo di halaman rumah. Tanganku mengetuk pintu yang sedikit terbuka.
      Simbok Marni menyambutku. Setelah salaman dan saling menanyakan kabar, kuutarakan maksud kedatanganku. Kaget kudengar kabar itu. Kecewa itu pasti. Aku terlambat. Marni telah berangkat ke Purwakarta tadi pagi. Air mata menetes. Kuminta alamat yang dituju Marni di Purwakarta sana. Entah bagaimana dan dengan siapa aku akan menyusulnya ke Purwakarta.
      Aku menangis sepanjang perjalanan ke rumah. Menyesal. Kenapa aku kemarin tidak segera ke rumah Marni ketika tahu dia ke rumahku. Aku harus menyusulnya. aku harus kerja. Pergi ke Purwakarta adalah alasan yang jelas agar aku terlepas dari segala pertanyaan orang. Agar aku bisa tegak lagi menatap dunia. Agar aku bisa membuang segala keminderanku karena gagal diterima di kampus impian.

Jumat, 20 Juli 2018

Tangisku Luruh dalam Kebekuanmu

(Nyoba bikin cerpen. ini kutulis tahun 2012)

"Sekarang kamu makan. Selesai makan, bantu Bapak mengangkat gabah yang sedang dijemur" ucap Bapak tegas tanpa ekspresi.
Aku menganggguk. Kakiku masih pegal-pegal setelah jalan sekitar tiga kilo meter jarak dari sekolah ke rumah. Rasanya aku ingin istrirahat, merebahkan badanku di dipan kayu dan bisa tidur. Tetapi khayalanku harus kembali kukubur dalam-dalam. Perintah Bapak harus aku laksanakan, tanpa alasan. Aku makan dengan pelan, menikmati tumis kangkung dan tempe goreng serta sambal terasi. Ibu masih sibuk membolak-balik gabah yang sedang di jemur. Panas matahari sudah berkurang, berganti dengan awan yang mulai menghitam menggelayuti langit.

 "Ayo cepat makannya. Nanti keburu hujan dan padi-padi belum masuk rumah" teriak Bapak dari halaman
Buru-buru kuselesaikan makanku, dan segera menuju halaman sebelum Bapak bertambah marah.

Padi-padi yang tadi dijemur sudah selesai dimasukkan ke dalam karung-karung. Ada lima belas karung. Dan au harus memanggulnya satu persatu. Padi-padi ini bukan sepenuhnya milik Bapak, tetapi milik Bu Sri, pemilik sawah yang digarap bapak. Besok siang bu Sri akan datang mengambil hasil paro, setengah dari jumlah padi di karung-karung ini. Sudah empat karung padi yang berhasil kupindahkan ke rumah. Duh, aku lelah sekali. Pengin rasanya bilang ke bapak, biar bapak membantuku.
"Yang benar bawanya. Anak laki-laki harus kuat" teriak bapak ketika melihatku terhuyung saat memanggul padi.

Ditengah pekerjaanku mengangkuti padi, beberapa teman mainku melintas. Rupanya mereka hendak pergi memancing persawahan dekat kantor pos.Pengin sekali aku ikut memancing. Membayangkan dapat ikan banyak, digoreng buat lauk makan malam. Hmm, nikmat.
"Wan, kami mau memancing. Mau ikut?" Budi menawariku
"Iya, ikannya lagi banyak. Kemarin saja kita dapat ikan banyak" cerita Jono berapi-api, membuatku semakin tertarik

Aku menengok ke arah bapak. Bapak memandangku galak. Dari sorot matanya, aku paham bapak tak mengijinkan aku ikut mereka. Aku menggelengkan kepala ke arah teman-temanku. Mereka juga kecewa karena aku tak bisa bergabung dengan mereka.Mereka paham bagaimana watak bapakku.

Pekerjaan mengangkuti padi selesai sudah. Kuteguk segelas air putih. Peluh membanjiri dahi dan punggungku. Kutarik nafas penuh kelegaan. Selesai kerjaan ini, berarti aku bisa menyusul teman-temanku. Hari beranjak sore. Kukemasi peralatan memancingku. Kail, joran, dan umpan berupa cacing yang kucari di tanah belakang rumah telah siap. Aku mengendap-endap keluar pintu samping. Ehm. Suara deheman bapak seketika menghentikan langkah kakiku.
"Mau kemana? Tugasmu belum selesai" bentak bapak
"Itu, beras ibumu sudah habis" tangannya menunjuk pada ember penyimpanan beras yang sudah kosong "Sekarang, ke penggilingan padi, bawa gabah yang digudang" lanjutnya
Uh, bapak. Kapan sih aku bisa beristirahat dan bisa menikmati duniaku barang sejenak. Jengkel dengan sikap bapak, aku pun lari dengan peralatan pancingku. Eh ternyata bapak mengejarku. Aku kalah gesit dan bapak berhasil mencengkeram krah bajuku.

"Dasar anak nakal. Pulang" tangan kekar menampar pipiku.
Sakit dan panas sekali rasanya pipiku. Beberapa orang tetangga yang melihat kejadian ini tak bisa berbuat apa-apa. Mereka sudah hapal, bapak memang terkenal galak dan pemarah.Dengan terpaksa kuturuti kemauan bapak. Kutuntun sepeda dengan langkah cepat. Sekarung gabah kuletakkan ditengah-tengah sepeda. Iri rasanya melihat anak-anak seumuranku yang sedang asyik bermain bola di halaman, ada juga yang asyik bersepeda dengan penuh canda tawa.

**************************

 Pagi ini kembali aku ke sekolah jalan kaki. Kata bapak sepedaku mau dipakai ibu ke sawah. Padahal ibu sudah bilang, ke sawahnya mau jalan kaki saja, lewat jalan pintas biar bisa cepat sampai. Kasihan kalau aku jalan kaki lagi, mana pulangnya panas-panas. Tetapi, bapak tak menggubris permintaan ibu. Entahlah, kok bapak rasanya tak pernah sayang padaku. Tak pernah tahu dan mau tahu kebutuhan sekolahku.Bayar sekolah pun aku harus minta berkali-kali. Kalau pun akhirnya diberi, tak jarang uang itu disumpalkan kemulutku saat aku menangis menunggu uluran uang darinya.

Siang ini begitu panas. Teman-temanku sudah pulang duluan, mungkin sudah sampai rumah. Aku jalan kaki sendiri. Bukannya tak ada yang menawariku untuk dibonceng sepeda, tetapi aku merasa tak enak menumpang terlalu sering. Duh, ujian kenaikan kelas seminggu lagi. Bagaimana aku bisa belajar dan dapat nilai bagus, kalau setiap hari aku harus selalu bantu bapak ini itu. Setiap pulang sekolah selalu ada pekerjaan yang menungguku. Seolah bapak tak pernah senang membiarkan aku tenang tak terganggu.

"Jadi anak itu harus nurut sama orang tua. Gini-gini aku bapakmu, yang ngasih makan kamu. Kalau masih kecil saja susah diatur, bagaimana nanti kalau sudah besar? Jangan ikut-ikutan teman-temanmu. Mereka anak orang berpunya. Kamu? kalau bapak tak kerja mati-matian kita semua tak bisa makan" panjang lebar pidato bapak saat melihat mukaku yang cemberut dan ditekuk waktu disuruh menggembala kambing

"Wawan kan mau belajar Pak. Seminggu lagi ujian untuk kenaikan kelas" rajukku
"Alah. belajar. belajar. Memang mau jadi apa kamu nanti. Tetap aja nanti jadi orang susah seperti bapakmu ini" bantah bapak

Dengan cemberut kukeluarkan empat kambing-kambing ini dari kandang. Tanpa mempedulikan raut wajah keterpaksaanku, kambing-kambing itu keluar kandang dengan ceria. Tanpa dikomando mereka kompak menuju lapangan rumput yang letaknya beberapa rumah dari rumahku. Lapangan rumput ini persis di pinggir jalan raya. Motor dan mobil berseliweran. Beberapa anak gembala berteduh di bawah pohon cemara yang mengitari sepanjang lapangan rumput. Angin sepoi-sepoi membelai wajahku. Nikmatnya. Kambing-kambingku sedang asyik merumput. Hoamm. Mengantuk.

"Hei, bangun!" aku kaget ketika sebuah pukulan kayu telah melayang di kepalaku. bapak.
" Disuruh jaga kambing malah enak-enak tidur. Tuh, kambingmu keserempet motor" kualihkan pandanganku ke seberang jalan. Seekor kambingku terduduk dengan kaki berlumuran darah. Aduh. Salah lagi.
"Makanya kalau kerja yang benar" kembali bapak memukulkan kayu kali ini ke punggungku.
"Ampun pak. Sakit" Sebisa mungkin kutahan air mataku. Aku tak mau menangis dan dibilang cengeng. Malu dilihat orang-orang yang lewat.

Sejak insiden kambing, kegalakan bapak makin menjadi-jadi. Aku selalu jadi bahan pelampiasan. Aku sudah tak betah di rumah. Mau pergi, pergi ke mana? Pengin rasanya nakal sekalian daripada aku tersiksa begini. Tapi mau merokok aku tak punya uang. Mau nongkrong-nongkrong di perempatan jalan, kasihan ibu pasti malu kalau aku jadi omongan. Detik demi detik tak cepat berlalu. Setahun lagi, setelah aku lulus SMP, aku bisa bebas dari rumah ini, dari neraka yang diciptakan bapak. Kadang aku berpikir, apa aku bukan anak kandungnya, kok bapak begitu galak dan ganas padaku. Ibu juga sering tak bisa bertindak netral, tak bisa membelaku saat bapak memarahiku.
"Betapa pun buruk tabiatnya, dia itu bapakmu, bapak kandungmu. Tanpa dia, tak mungkin kamu ada di dunia ini" Nasihat ibu setiap kali kukeluhkan sikap bapak.




Selasa, 10 September 2013

Dimanakah Nurani Itu? (Episode Kursi Prioritas)

gambar tempat duduk prioritas yang saya ambil dari blog orang

Pagi itu seperti biasa aku terburu-buru melangkah ke stasiun ketika kudengar tanda-tanda kereta hendak datang. Secepat apapun langkahku, tak dapat mengurai kemacetan dan tumpukan orang di peron ruang tunggu. Tak bisa langkahku mebawaku ke gerbong paling ujung, gerbong khusus wanita. Dengan ragu, kuhentikan langkah, melongok pada pintu yang terbuka. Kosong? secepat angin, aku meloncat ke gerbong campur. Kereta yang "aneh" karena ga sepadet biasanya. Definisi padat disini : Tak bisa berdiri tegak dengan dua kaki, badan mengkeret karena dipress dari depan belakang kanan kiri. Leher ga bisa berdiri tegak karena tangan tetangga nyelonong seenaknya di depan muka hanya untuk berpegangan pada gantungan pegangan. Padahal tanpa berpegangan pun tidak akan jatuh.

Dan perjalanan kereta "aneh" ini pun dimulai. Oh ya. Menjelang detik detik pintu hendak ditutup dan kereta siap berangkat, meloncatlah sepasang manusia bergabung ke gerbong ini. Sebenarnya sih aku tidak bermaksud menguping apa yang mereka bicarakan, tetapi, kupingku tak sengaja saja mendengarnya, tanpa terlihat sengaja. Sebutan yang mesra. Mereka memanggil mama dan papa. Tadinya sebelum kudengar si cowok manggil mama, si cewek berjilbab (tapi aku belum lihat wajahnya) ini memang anaknya si papa. Tapi kok lama-lama mencurigakan ya. Kok papa mama, dan pengin dekat-dekat papa. Lalu dengan gerakan pelan gak mencurigakan, pura-pura melihat jalan diseberangku, aku amati wajah itu cewek,..oalah,.ini mah papa mama ketemu gedhe. Risih juga nih berdiri dekat-dekat orang kasmaran. 

Stasiun demi stasiun terlewati. Naiklah seorang ibu membawa batita yang tertidur dalam gendongannya, dan seorang perempuan hamil. Para lelaki di depan pintu segera memberi ruang pada mereka." Ayo ke dalam biar dapat duduk". Mereka meminta jalan dan bisa berdiri tepat di depan kursi prioritas. Seorang mbak cantik yang berdiri di depan kursi prioritas tetap asyik memainkan BB nya, demikian juga mas ganteng di sebelahnya. Dan, aku pun menunggu. Sungguh. Aku menunggu. Aku pengin tahu siapa yang peduli dan siapa yang gak mau tahu. Aku pengin tahu, seberapa egois orang di kereta ini-termasuk aku didalamnya-. Sejatinya aku merasa kesal karena kadang tak bisa berbuat apa-apa, hanya membantu meminta buat mereka, sedang orang lain hanya melihat sekilas saja, tak peka tak merasa.  Menit demi menit berlalu. Kereta yang tersendat-sendat akibat ada gangguan sinyal di Manggarai makin memakan waktu. Si papa mama berbisik di telingaku. "Bu colek aja tuh yang duduk disitu. Kan ntar mereka bangun". Kuilhat bapak yang duduk di kursi prioritas, sepertinya sakit. Mata kirinya diperban. 

"Ibu geser ke dalam aja, biar dapat duduk" kata si mbak hamil ke ibu yang membawa batita. Oh,..jadi mereka ga saling kenal ya. kupikir siibu yang gendong batita ini adalah ibu si mbak hamil.
Si ibu menggendong bayi bergerak ke arah kursi prioritas di belakangku, sisi lain kursi prioritas. Orang-orang hanya memberi celah untuk melangkah tanpa ada kata-kata. Lama-lama aku tak kuat menahan kejengkelanku. Kesal dan Jengkel. Masa orang sebanyak ini gak ada yang berniat menolong sungguh-sungguh. Hanya enteng-enteng saja bilang kedalam aja masuk aja biar g dapat duduk. Hello,..kau pikir semua orang itu punya nyali untuk minta?
"Tolong donk yang dekat kursi, colekin yang duduk disitu jangan cuma saling menunggu. Gak semua orang itu berani untuk minta. Mesti ada yang mbantuin" ucap seseorang di dekatku, dan langsung kuiyakan.
Baru deh orang bereaksi. Sebel. Kesal. Kecewa. Sedih. Marah. Ini soal kecil apa besar? Ya memang ini soal kecil. Tapi soal kecil ini dibiarin gimana dengan yang besar? Alah,...ini kan kejadian biasa di kereta. Wis, biasa aja. Ya setiap saat bisa saja terjadi. Tapi kita manusia-manusia yang punya hati, manusia sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Kita harus bisa berempati pada orang lain. Bangku prioritas ya memang untuk prioritas. Bukan orang g hamil, sehat sehat saja  karena saking nyamannya duduk disitu sampai tertidur tidur pulas dan gak mau beranjak berbagi tempat dengan yang membutuhkan. Manusia manusia dengan baju rapi dan wangi, intelek, pegang BB atau gadget mahal, asyik saja mainin gadget ga peduli dengan orang lain. Paling banter update status : "ada ibu bawa anak dan wanita hamil, udah berdiri depan kursi prioritas, tapi ga dapat duduk juga"

Akhirnya si ibu dapat duduk, demikian juga dengan si mbak hamil. Apa semua hal harus diminta dengan keras baru diberikan? Apa memang hati para manusia kota sudah demikian kerasnya sehingga tidak bisa disentuh dengan kata lembut, ataukah ini hanya sepenggal  potret kehidupan yang kebetulan saja  tersaji nyata di depan mata?

Selasa, 30 Juli 2013

KETIKA MENILAI SESEORANG DARI PENAMPILAN

Zaman ini, semua hal dilihat dari penampilan. Rumah yang bagus, kendaraan yang bagus, pakaian yang bagus, juga gadget yang bagus.
Di mana-mana, rasanya ketemu orang perlente berpenampilan serba bagus, orang lebih menaruh hormat, dibandingkan apabila ketemu dengan orang yang berpenampilan bersahaja.

Entahlah, zaman ini kadang membingungkan. Orang lebih senang berpenampilan bagus memoles diri disana-sini, hanya untuk bisa dilihat lebih "wah" daripada orang lain. Tampil dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki dengan semua barang yang bagus. Jam bagus, baju bagus, sepatu bagus, tas bagus, cincin gelang, pakai semua deh, udah serasa toko perhiasan berjalan. Emang gak takut apa ya? Kejahatan mengintai dimana-mana. Makanya kapan hari tuh ada meme : Mendingan mana pake tas harga jutaan tapi isi tasnya cuma ada duit seratus ribu. Atau Pake tas harga seratus ribu tapi isinya uang jutaan? hahahha.
Bukannya tidak suka dengan penampilan yang serba wah. Boleh berhias, tapi tidak berlebihan. Apalagi tampil elegan tapi dari uang pinjam -istilah di kampungku "galih gaya-gaya tapi nyilih"- yang ketika ditagih galakan yang punya utang daripada yang punya duit.

Zaman ini, orang mudah terbujuk rayu. Mudah ikut-ikutan gaya orang lain. Selalu berusaha memenuhi keinginan tapi susah untuk menuruti hal yang memang dibutuhkan. Tetangga beli mesin cuci satu tabung, ikutan beli. Padahal mesin cucinya yang dua tabung masih baik-baik saja. Tetangga beli kulkas dua pintu, ikutan beli, padahal kulkasnya yang satu pintu masih adem gak ada masalah. Tetangga pasang AC, ikutan pasang AC, padahal dia gak perlu-perlu amat. Rela tiap hari makan di tempat makan mahal, padahal masak sendiri lebih hemat dan sehat. Alasannya masak di dapur tuh panas, capek, bikin berantakan, ntar gak bisa disambi buka facebook, instagram, youtube dll. Rela memakai kartu kredit dengan tagihan bengkak demi mendapatkan barang diskon yang sebenarnya kurang dibutuhkan. Giliran tagihan CC datang, gelagapan.
Nek ngene yo kasihan suamimu, istrimu, anakmu, ortumu, tetanggamu, temanmu. Loh?
Zaman ini semua menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, yaitu uang. Mendapatkan uang tak melulu dengan jalan halal berpeluh-peluh dan menguras tenaga. Kalau bisa, dengan jalan pintas tapi langsung dapat banyak. Orang lupa arti kerja keras, arti harga diri. 
Orang selalu menuntut kesejahteraan. Menuntut upah yang tinggi tetapi tidak dibarengi dengan peningkatan kinerja. Rewang minta naik gaji ke tuan. Tapi setelah dinaikkan gajinya, kerja gak makin bagus. Malah makin kusyuk nonton tivi, ngerumpi. Kerjaan rumah gak beres, anak tuan gak diurusin. Orang lain yang gaji sudah tinggi sudah sangat layak dibandingkan dengan orang lain, tetapi senantiasa merasa kurang. Banyak cicilan ini itu, jadi gaji selalu habis di akhir bulan. Kok bisa kan gaji dan tunjangan udah naik? Ya bisa lah. Wong selisih kenaikannya dipake buat ngredit barang baru, buka utangan baru, bukannya disimpan sebagai tabungan. Yekan, yekan???
Tungggu,..ini soal cicilan. Cicilan KPR okelah, kan memang rumah kebutuhan pokok. Cicilan mobil perlulah. Tapi kalo sudah buat nyicil ini itu yang kurang perlu, sebenarnya ya salah dia tidak bisa memanaj keuangannya dengan baik. Jadi, kalo sudah begini, punya penghasilan berapa pun akan selalu merasa kekurangan.
Mengutip kalimat orang terdekat : dulu, aku begitu hormat dengan orang kaya, rapi, dan berpenampilan bagus. Tetapi kini, rasa hormat itu perlahan luntur setelah tahu bahwa kekayaan itu diperolehnya dengan mudah lewat cara-cara yang tidak baik. Aku lebih menghormati tukang angkut sampah,  tukang ojeg dan tukang-tukang asongan lain, tukang jual keliling dan siapa pun yang mereka memperoleh uangnya dengan peluh dan pedih, lewat perjuangan keras. Menunggu rizkinya datang, dijemput, dan ketika datang sedikit mereka tetap berlapang dada, tersenyum dan tetap terucap syukur dari bibirnya. Sebesar apapun penghasilan, kalo kita sendiri tidak mencukupkan, maka akan selalu kekurangan. Gajimu selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup.

(Edisi curhat)

Kamis, 17 Januari 2013

JANUARI : Hujan Sehari-hari, Banjir Dimana mana






Semenjak Selasa lalu, 15 Januari 2013, wilayah sekitar jembatan Kalibata terkena banjir. Warga banyak mengungsi di bawah fly over, dan tempat sekitarnya.
Saya pribadi ikut prihatin terhadap para korban banjir ini. Saya sendiri pernah mengalaminya sekitar akhir tahun 2006 atau awal tahun 2007, saat masih mengontrak rumah di Rawajati Barat. Saya merasakan betul bagaimana menderitanya kebanjiran.

Dalam ingatan saya, waktu itu hujan turun terus menerus tiada hentinya semenjak sore. Sekitar jam sembilanan malam, air mulai masuk rumah. Saat itu rumah kami(saya dan suami) tanggul seadanya. Ember, plastik, cobek, dan perkakas lain kami gunakan untuk membuat tanggul sementara. Barang-barang sudah kami amankan diatas kursi atau meja atau tempat tidur. Pikir kami, amanlah, semoga hujan segera berhenti. Tanpa kami perhitungkan, serangan banjir muncul dari arah kamar mandi. Jadi, saluran air kamar mandi itu desainnya langsung terhubung dengan saluran air di pinggir-pinggir rumah warga. Paniklah kami, tanpa bisa menghentikan laju air tersebut. Lalu suami menyuruh saya tinggal di kamar saja. Dengan agak ragu, saya turuti permintaan suami. Kamar pun mulai ditanggul dari luar. Tiba-tiba perut besar saya mules. Aduh, apakah saya akan melahirkan dalam keadaan seperti ini? Rasanya belum waktunya. Oalah, ternyata pengin pup. Panik, Saya panggil suami, biar mau membukakan pintu. Tapi suami menolak dengan alasan agar air tidak masuk kamar. Dan jreng jreng, terpaksalah dengan selembar kresek hitam saya tuntaskan hasrat malam itu. Untungnya masih ada satu botol aqua yang bisa saya gunakan untuk bersih-bersih, hihi.

Menit demi menit terasa begitu lama. Hujan bukannya berhenti malah semakin deras. Pukul  sepuluh atau sebelas malam rumah kami benar-benar diserbu air yang deras mendesak berlomba memenuhi rumah, dan langsung tinggi hampir setengah meter. Pasrah. Saya pun naik ke tempat tidur, berdampingan dengan  barang-barang. Badan lelah, tapi pikiran gelisah, membuat kami tak bisa tidur. Yang kami pikirkan, kapan air surut agar kami segera bisa bebersih.

Entah pukul berapa air mulai surut, kami dan para tetangga mulai sibuk membersihkan rumah masing-masing. Bau amis, sampah, hewan kecil-kecil, cacing bertebaran disana-sini. Dengan sisa tenaga kami bersihkan rumah secepat mungkin agar bisa segera memejamkan mata.

Pagi, pukul tujuh saya tinggalkan rumah menuju tempat kerja. Hujan masih deras, sepanjang jalan digenangi air setengah betis. Masih ada suami di rumah yang siaga banjir, barangkali dia akan ke kantor agak siangan.Dan benar, sekitar pukul sembilan suami menelpon mengabarkan baru saja ada banjir susulan dan sudah suami bereskan.

Seharian hujan jatuh terus-menerus. Karena di kantor yang tertutup, saya tak begitu tahu sederas apa. Setelah pulang kerj, begitu sampai rumah langsung kaget. melihat tanah kotoran memenuhi lantai dan dinding. Ternyata kebanjiran lagi. Berarti sedari malam, kena banjir 3X!. Kami pun mulai berpikir untuk mencari kontrakan baru, atau cari rumah. Capek membersihkan bekas banjir. Alhamdulillah, awal Februari kami dapat rumah kecil di Depok. Bye bye banjir.







                                   Gambar banjir yang saya ambil dari Website Aksi Cepat Tanggap. 



                                        Gambar lain yang saya ambil dari Tempo


Terhadap para korban banjir, saya ucapkan turut bersedih, semoga semua tabah, tetap sehat dan semangat membersihkan sisa banjir. Saya saja yang kena tiga kali sudah menyerah, capek banget rasanya. Semoga banjir ini membuat kita semua jadi introspeksi diri, menyadari bahwa ada yang salah antara manusia dengan alam. Okelah, kita tak perlu ikut menghujat, menyalahkan pejabat dan orang-orang. Saya bukan warga Jakarta, tetapi setiap hari, kurang lebih sepuluh jam waktu saya habiskan di Jakarta. Kalau masalah banjir ini kita timpakan pada pemimpin yang baru menjabat beberapa bulan, ini salah besar. Siapa pemimpin sebelumnya, dan sebelumnya? Banjir kan tidak datang begitu saja, tentu ada pencetusnya.Apa sebenarnya akar masalah ini? Saya akan jawab dengan pemikiran saya, sekali lagi saya hanya orang awam, bukan ahli dibidang perbanjiran, jadi bisa saja banyak yang tidak sepakat dengan yang saya ungkapkan.

Pertama, kurangnya daerah resapan air. Pohon-pohon sudah sangat jauh berkurang, dan jalanan disemen atau diaspal semua. Tanah yang tersisa hanya sedikit, makanya kalau hujan terjadi genangan dimana-mana.
Kedua, gorong-gorong yang kecil dan sempit, parit atau selokan yang kecil dan mampet, tak mampu menampung debit air.
Ketiga, sampah dimana-mana. Di parit, di selokan, di gorong-gorong isinya sampah dengan banyak ragamnya, segala jenis sampah. Mau bukti? Kalau naik mikrolet 16 dari Pasar Minggu atau naik Kopaja 57, saat melintas di atas jembatan Kalibata, lihatlah sungainya. Warnanya coklat keruh dan didominasi sampah. Orang buang sampah dimana-mana. Sudah disediakan tempat sampah, jalan cuma bentar ke tempat sampah, tapi ogah dan memilih buang sampah dibawah atau di dekat duduknya. Alasannya kan ada petugas yang dibayar buat bersihin sampah. Hallo,...semua mengandalkan petugas? Apa susah dan salahnya sih kita bantu petugas dengan kebiasaan baik ini. Trus, si pembuang sampah sembarangan ini, kalau ditegur atau diingatkan lebih galak dari yang menegur. Anak kecil itu lebih pinter dan lebih taat pada aturan, buang sampah pada tempatnya. Lha orang dewasa malah lebih parah? Di tempat umum disediakan tempat sampah yang bagus, eh umurnya tidak lama. Ada saja yang lalu menjadikannya koleksi pribadi atau malah menjualnya dengan alasan perut. Contoh lain, orang ramai-ramai buang sampah di lingkungan kampus UI Depok, sambil melintas disitu, sambil buang sampah. Okelah, kalau buang sampahnya di tempat yang sudah disediakan, tak masalah. Lha ini buang sampahnya di sepanjang kiri kanan  jalan. Sudah diberi spanduk peringatan, juga pada tidak bisa baca tuh. Kalau kampusnya berang dan akhirnya jalan ditutup untuk umum, kan rugi semua, padahal itu ulah segelintir orang.
Keempat, banyaknya para penduduk yang tinggal di bantaran sungai. Tinggal disitu, buang sampah disitu juga. Waktu kapan pernah baca, lupa dimana. Kalau tidak salah ada sebuah LSM atau apa yang wawancara dengan warga yang tinggal di bantaran sungai di Bukit Duri, Tebet. Intinya ditanyakan, adakah warga yang buang sampah di sungai? Si Narasumber, seorang ibu menjawab dengan mantap. Tidak ada. Nah, tiba-tiba melintas warga lain yang dengan santainya menenteng plastik gede lalu menceburkannya ke sungai. Jadilah si narasumber senyum tersipu-sipu. Padahal tinggal dibantaran sungai itu sangat berbahaya, dan sebenarnya dilarang. Namun, kebanyakan orang tak bisa membiarkan tanah kosong barang sedikit, langsung ditempati.

Sudah saatnya kita harus berbenah. Mulai melakukan hal kecil yang kelihatan sepele, tapi besar manfaatnya. Mungkin membuang sampah sembarangan hanya sampah kecil, tetapi bila dilakukan terus-menerus dan oleh banyak orang, akan seperti ini akibatnya. Banjir dimana-mana, harta benda tenggelam, mengungsi dengan tidak nyaman, karena kepikiran dengan harta benda disekitarnya. Semoga banjir ini, membuat kita semua sadar, bahwa antara manusia dan alam adalah dua hal yang saling berkaitan, dan menimbulkan sebab akibat. Jika kita menjaga alam, maka alam pun akan menjaga kita.





























Selasa, 01 Mei 2012

Warna-Warni Pagi di Rangkaian Si Ular Besi

Aktivitas pagi telah dimulai. Matahari masih malu menampakkan diri. Tetapi, para manusia telah ramai memenuhi stasiun Depok Baru ini. Menunggu kedatangan kereta sesuai tujuannya. Beberapa calon pengguna kereta terburu-buru berlari ke peron begitu terdengar pengumuman bahwa kereta akan segera masuk jalur 1.

Pintu terahir, Gerbong KKW (Kereta Khusus Wanita), Bogor-Tanah Abang
Pintu belum membuka sempurna ketika kereta merapat di stasiun Depok Baru. Namun, para wanita sudah berebut, merangsek masuk. Teriakan terdengar dari mereka yang terkena dorongan. Sudah biasa terjadi keriuhan seperti ini, lalu sebentar kemudian kembali menjadi sepi. Meninggalkan stasiun Depok Baru, kereta oleng karena ada perlintasan rel. Kembali teriakan terdengar.
"Aduh, jangan dorong-dorong donk"
"Yee,..siapa juga yang dorong. kan memang lagi diperlintasan rel, agak miring pula tanahnya"
"Sudah. sudah. Memang begini kalau naik kereta"

Kereta melaju perlahan. Sepanjang kanan rel, pasar tradisional Kemiri Muka menampakkan geliatnya. Para pedagang sibuk melayani pembeli yang membeli dagangannya. Beberapa motor dengan muatan penuh sayuran memberi jalan pada lajunya si ular besi. Kereta hampir mencapai stasiun Pondok Cina.
"Ntar jangan dikasih masuk aja. Biar mereka ikut kereta berikutnya"
"Benar, gak usah dikasih masuk"
"Itu yang depan-depan nahan donk"
"Jangan begitu. Kasihan. Ini kan fasilitas publik"

Pintu kereta terbuka, langsung diserbu wanita-wanita perkasa, dengan sorot mata siaga dan menghiba mencari celah diantara kaki-kaki bersepatu yang tertata di lantai kereta.Para penumpang yang bersiaga di depan pintu terdorong masuk ke dalam. Teriakan, gerutuan, omelan tak dipedulikan. Yang penting bisa masuk, terangkut, itu sudah lebih dari cukup.
"Ibu, tasnya dong bu, kena wajah saya nih. Bisa enggak di taruh di atas saja" tangannya menunjuk ke rak di atas tempat duduk. Ternyata sudah penuh dengan tas dan aneka bawaan lainnya.
"Bu, bu. Tasnya isinya apaan sih, kok punggung saya yang kena, sakit semua"
"Oh, isinya botol kaca penampung ASI" yang ditanya menjawab dengan senyuman penuh bangga. Bangga karena bisa tetap memberikan ASI untuk buah hatinya meskipun dirinya bekerja, bukan bangga karena membuat sakit punggung tetangga.
"Mbak, bawa apaan sih? kok anget-anget panas"
"Oh, bawa bubur ayam mbak"

Stasiun Universitas Indonesia
Pintu terbuka. Serombongan wanita-wanita menatap penuh harap, ada ruang yang tersisa buat mereka.
"Mas, tolong dorongin saya" ucap calon penumpang pada petugas penjaga pintu masuk. Si mas mendekat.
"Satu dua tiga. Hup" didorongnya si mbak dengan sigap yang berakhir dengan teriakan beberapa penumpang dari dalam gerbong.
Pintu hampir ketutup, ketika tiba-tiba seorang makhuk asing, menyeruak memaksa masuk. Para penumpang dekat pintu saling berpandangan dalam diam. Saling bertanya meski tanpa berucap. Waduh, gimana nih? kereta mulai melaju. Si makhluk asing diam menatap pemandangan di luar pintu. Tak disadari tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.
"Pak, ini gerbong khusus wa-ni-ta". kata wanita diucapkan dengan jelas.
"Iya mas. Mas salah masuk gerbong" sambut yang lain. Kalau ada yang mendahului, yang lain mengikuti.
Si Mas-mas terkaget-kaget. Mungkin jarang naik kereta, jadi tak tahu kalau gerbong paling depan dan paling belakang adalah gerbong khusus wanita.Wajahnya memerah, gugup dan salah tingkah. Ditepoknya jidatnya berulang kali. Matanya tak berani melihat ke para wanita di sekitarnya yang menatapnya dengan pandangan beragam.

Begitu masuk stasiun Universitas Pancasila, si Mas keluar dengan perasaan lega, terbebas dari pandangan curiga wanita. Berlari cepat menuju ke gerbong campur. Seumur-umur baru kali ini jadi pusat perhatian para makhluk manis dengan pandangan sinis. Stasiun UP terlalui tanpa hambatan. Di stasiun ini, di peron belakang jarang sekali dapat tambahan muatan. Yang diserbu selalu pintu depan kereta.

Menjelang stasiun Lenteng Agung, para penumpang mulai gelisah. Sedikit-demi sedikit bergeser memberi celah. Stasiun ini terkenal angker dan menyeramkan. Daripada terlempar, terdorong dengan kasar, lebih baik menyingkir. Pintu terbuka, sesaat setelah beberapa penumpang menyingkir ke kiri dan ke kanan. Ternyata celah yang ada tak mampu menampung banyaknya penumpang yang ingin masuk.
"Aduh, udah full. Jangan maksa. Ikut kereta belakangnya saja" teriak ibu-ibu di ujung pintu belakang
"Hm,...bisa jadi ikan asin nih tiap pagi begini"
"Ihh, naik kereta ongkosnya enam ribu sampai tujuh ribu. Buat pijit lima puluh ribu. Tekor deh gue"
"Ini yang naik dari Lenteng, sarapannya apa sih? kok kuat-kuat banget ya. Tenaganya luar biasa"
"Bukan sarapannya apa, sarapannya berapa piring kaliiii"

Kereta melesat ke Tanjung Barat. Jarak Lenteng-Tanjung barat lumayan jauh. Sepanjang kiri kereta, Jalur motor mobil macet luar biasa, tetapi hal biasa bagi penduduk ibukota. Seorang Mbak-mbak yang lagi asyik update status lewat BB nya dicolek penumpang di belakangnya.
"Mbak mau turun enggak? tukeran tempat donk"
Si Mbak bergeser dengan tangannya masih sibuk otak-atik BB. Pintu kebuka. Para penumpang turun.Seseorang menjerit.Mungkinkah kejepit?
"Aduh mbak, kenapa?" tanya orang-orang dengan panik.
"Turun aja dulu mbak. Minta petugas ngambilin sandalnya"
"Nggak apa-apa, sandal jepit ini. Saya buru-buru, takut kesiangan"
Si Mbak kembali memencet BBnya, update status,'sandal gue jatuh di stasiun Tanjung Barat. Tobat. Kereta penuh amat seh'

Kereta terus melaju ke Pasar Minggu
"Bu, mau turun enggak? tukeran tempat ya"
Si ibu yang ditanya tak menjawab.
"Maaf, bu. mau turun enggak?"
"Ih, cerewet amat. Sudah lewat belakang saya saja. Terserah donk saya turun dimana"
Si Ibu tetap tak mau menggeser posisinya. Si Mbak juga tetap merangsek menuju pintu. Bagaimanapun dia harus turun di Pasar Minggu.
"Aduh, sakit amat nih" si ibu tadi spontan melihat ke bawah
"Eh, mbak. Tolong ya, kalo naik kereta jangan pakai high heel. Sakit tau keinjak"
"Ya, terserah saya donk mau pake apa" Si Mbak merasa punya kesempatan untuk membalas
"Sudah-sudah. Jangan berantem, masih pagi. Buang-buang energi"

Di stasiun Pasar Minggu, banyak penumpang yang turun, tetapi yang naik juga banyak. Turun tiga naik lima. Seorang penumpang dengan perut besar hendak masuk. Orang-orang sudah berpandangan. Mau melarang bingung, membiarkan juga kasihan. Berdesakan dengan perut membuncit tentu sangat tak nyaman.
"Mbak-mbak yang duduk. Tolong gantian ya. Kasih tempat duduknya buat ibu hamil ini" ucap seorang ibu
Yang disapa hanya membuka mata sedikit dan kembali menutupnya. Tidur atau pura-pura tidur?
"Mbak,...kasihan ibu hamil ini. Gantian duduknya ya?" colek ibu yang lain
"Hm, sedang tak enak badan, Bu. Ke tempat duduk prioritas saja" jawabnya cuek.
Bagaimana mungkin hendak ke tempat duduk prioritas, bergerak saja terbatas.
"Memang bukan tempat duduk prioritas, tapi berbagi kebaikan kan lebih prioritas" ujar si Ibu.
Si Ibu hamil hanya bisa mengusap-usap perut buncitnya.
Penumpang yang lain mulai beraksi, mencolek orang di sebelah mbak yang menolak memberikan tempat duduknya.
"Mbak, meskipun ini bukan tempat duduk prioritas, tolong gantian duduknya dengan ibu hamil ini ya?"
Untungnya si mbak ini dengan rela memberikan tempat duduknya diiringi senyum sumringah si ibu hamil dan pandangan lega dari para penumpang lain.
"Semoga Allah membalas kebaikanmu, Mbak" ucap si ibu hamil penuh haru

"Ya Allah, hape saya tak ada. Kok resleting tas saya kebuka" teriak seorang ibu-ibu dengan panik
"Hati-hati bu. Ada copet berkeliaran" bisik-bisik penumpang di samping si ibu
"Hah. Ini kan gerbong khusus wanita. Masa iya" si Ibu masih berpikiran positif
"Zaman sekarang bu, profesi tak mengenal gender"

Stasiun Pasar Minggu Baru.
Aman. Tak ada penumpang yang turun maupun naik. Stasiun sepi. Mulai terasa ada dorongan-dorongan serentak di sisi kiri kanan.
"Bu turun Kalibata? Tolong tukeran tempat ya"
Yang ditanya tidak menjawab, diam saja.
Beberapa orang di depan pintu tak mau bergeser. Oh, barang kali mereka juga akan turun di kalibata.

"Ya sudahlah, kalau tak turun dan tak mau bergeser kita dorong aja ramai-ramai" celetuk beberapa orang dari belakang.
"Betul. Setujuh"

Benarlah, begitu kereta masuk ke stasiun Kalibata, dan pintu terbuka. Orang-orang berhamburan turun. Dua orang yang ternyata tak turun tapi tak mau tukeran tempat, ikut terdorong, bahkan sampai jatuh. Ternyata kalau ibu-ibu nekad bersatu hasilnya sangat menakutkan.
"Aduh, kok didorong-dorong sih. Jatuh nih" teriak ibu yang jatuh
"Salah sendiri, sudah ditanya dan disuruh minggir enggak mau minggir juga"
"Makanya Bu, kalau tidak turun jangan berdiri dekat pintu"
"Eh, tolongin dong, bukannya nolong malah ngata-ngatain" beberapa orang yang masih punya hati segera menolong si Ibu yang jatuh.


Tips naik kereta :
Kuatkan tekad, Sarapan yang banyak, berani mendorong agar bisa masuk, Waspada terhadap aksi copet, Jangan pakai high heel, sepatu anda bisa menginjak kaki siapa saja dengan tingkat kesakitan yang tinggi. Jangan terlalu kencang mendengarkan music by earphone, akibatnya bisa tak mendengar saat ditanya orang. Tanyalah penumpang depan Anda ketika hendak turun, agar bisa memberikan jalan buat Anda. Yang paling penting, jangan kapok naik kereta.